Bersabar dengan Memancing

Senin, 07 Februari 2011



Walaupun cuaca panas, tidak menjadi masalah bagi Wiyanto untuk tetap nongkrong di tepi empang yang berada di kawasan Rawasari, Jakarta Timur. Sejak pagi hingga menjelang sore, lelaki berusia 39 tahun ini sibuk melempar dan mengganti umpan pancingannya. Hari itu, lima ekor ikan bawal dan tujuh ekor mujair didapatnya.
Memancing adalah hobi barunya setahun yang lalu. Awalnya, dia tidak tertarik dan memancing dianggap kegiatan membosankan. Apalagi hobi ini hanya sekadar menunggui ikan yang memakan umpannya. Tapi lama-lama ia jadi gandrung. Di akhir pekan seusai bekerja di instansi pemerintah, Wiyanto memilih menghabiskan waktunya dengan memancing.
“Enaknya, pas ikan mulai menyentuh umpan. Apalagi terasa banget pancing yang kita pegang. Pas disentak, dan ternyata kena, lebih terasa lagi nyamannya memancing,” ujarnya.
Yang paling penting dari prinsip memancing, menurut dia, melatih kesabaran pribadi. Pada saat ikan tidak menyentuh umpan, maka di situlah kita harus berpikir penyebabnya. Mungkin saja, dari sajian umpan yang tidak disukai ikan atau disebabkan hal lainnya.
Dia memilih memancing sebagai hobi akhir pekannya, karena lebih terasa santai. Tidak selalu sendiri, kadang membawa anaknya untuk menikmati suasana di pemancingan. Tempat yang dipilihnya harus tempat yang sejuk dan tidak bising dengan keramaian lalulintas.
Suasana pemancingan itu memang terasa tidak panas. Dikelilingi pohon pisang dan tempat nongkrong mancingnya dibuatkan rumah-rumahan. Di tempat itu pun ada warung kecil yang menyajikan penganan gorengan dan kopi. Ada empat tempat yang disediakan, yakni dua kolam ikam ikan mas dan dua lagi khusus bawal.
Setiap hari Minggu selalu diadakan lomba. Peserta hanya dikenakan tarif Rp35 ribu per pancing. Jika memperoleh ikan mas berwarna merah, maka peserta mendapatkan uang Rp10 ribu dan ikan menjadi milik pemancingnya. Lomba ini hanya khusus untuk kolam ikan mas. Untuk memancing di kolam ikan bawal dikenakan tarif Rp20 ribu per pancing.
Keberadaan tempat-tempat pemancingan kini semakin marak. Di Jakarta saja, tempat-tempat pemancingan sudah menjadi ajang bisnis. Seperti di empang yang ada di kawasan Rawasari, di danau Sunter, bahkan danau kampus Universitas Indonesia pun, menjadi tempat memancing cum rekreasi.
Tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membeli alat-alatnya. Apalagi, alat pancing yang dimiliki tidak harus berganti setiap saat. Yang perlu dipikirkan adalah sajian umpan agar ikan tergoda untuk memakannya. Umpan ini ada yang dibeli di toko-toko dan ada juga yang membuat sendiri.
Bagi yang maniak memancing, membeli alat pancing yang harganya mahal mungkin saja dilakukan. Dari yang harganya puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah. Faktor harga tidak menyurutkan niat pemilik kantong kempes untuk memancing. Sudah ada alat pancing sederhana yang harganya hanya Rp10 ribu. Jika tak ada uang juga, batang pohon bambu pun bisa digunakan. Tinggal membeli mata kail atau pelampung dan aksesoris lainnya.
Soal umpan, harus disesuaikan dengan jenis ikan yang akan dipancing. Di empang kawasan Rawasari misalnya, untuk memancing ikan bawal, pemancing hanya cukup mencari cacing yang mudah ditemukan di kawasan itu. Sedangkan untuk ikan mas, menggunakan pelet dengan campuran berbeda-beda, mulai terasi sampai telur semut.
Tidak hanya umpan yang harus dikuasai oleh pemancing, jenis mata kail juga ikut menjadi penentu. Ada banyak jenis mata kail. Setiap mata kail jelas berbeda peruntukan jenis ikannya.
“Setiap pemancing punya campuran umpan dan keahlian memasang alat pancingnya sendiri-sendiri. Jika tidak paham, nggak mungkin ikan mau makan,” ujar Asmara, pemancing yang ditemui di Danau Sunter, Jakarta Utara.
Dia tidak pernah memaksakan diri untuk membeli umpan yang dijual di toko-toko pancing. Menurutnya, lebih enak membuat sendiri. Selain tidak mengeluarkan uang banyak, dia juga bisa tahu selera umpan ikan. Karena, setiap lokasi pemancingan berbeda-beda selera makannya.
“Tempat pemancingan di Cibubur dengan di Danau Sunter jelas masing-masing beda umpan ikannya. Begitu juga tempat lainnya. Kalau hobi ini hanya sekadar iseng, sudah pasti bisa jenuh dan cuma menghabiskan waktu,” ujarnya.
Dia kerap memilih tempat mancing yang suasana enak dan tidak terbawa nafsu untuk harus dapat ikan Menurutnya, kenikmatan memancing adalah tarikan ikan yang memakan umpan. “Kita tunggu dengan sabar. Kalau tidak sabar, mana ada yang bisa tahan dengan hobi ini,” tuturnya.
“Lebih seru lagi, pas ada ikan yang makan umpan. Kita harus gentak agar tidak lepas dan mata kail tetap masuk di mulutnya. Biasanya, pakai teriak segala karena senang. Nah, itu yang menjadi keistimewaan dari memancing,” ujarnya.
Jika ingin memancing lebih berkesan lagi, cobalah mencari suasana baru di laut. Memancing di laut sudah pasti punya kenikmatan sendiri yang berbeda dari pemancingan di empang atau danau. Untuk itu banyak uang yang harus dipersiapkan karena selain memiliki pancingan yang kuat dan kelengkapan lainnya, Anda juga harus menyiapkan dana untuk menyewa kapal nelayan.
Memancing di laut memberi kemungkinan besar beroleh hasil pancingan yang lebih banyak. Bayangkan saja, hanya dalam hitungan detik pancingan langsung dilahap. Sekali tarik pancingan, bisa lima bahkan lebih banyak ikan yang kena. Tak ayal, inilah hobi nyaman di kala penat.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Search

Memuat...

IKLAN

CLOCK

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

PLEASE TRANSLATE HERE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : AFC

VISITOR

VISITOR FLAG

free counters

Total Tayangan Laman

© 2010 AFRI COLLECTION Blog Pemancing Design by Dzignine
In Collaboration with Edde SandsPingLebanese Girls