MEMANCING HIU

Senin, 07 Februari 2011


DI ATLANTIK SELATAN
Melewati Pulau Robben,seketika itu embusan angindari Kutub Selatan menambah krukapal Phoenicia menggigil.
Tari piring, panen, dan jaipong memeriahkan malam perayaan keberhasilan ekspedisi Phoenicia of Southampton mencapai Cape Town, Afrika Selatan, Maret 2010. Tiga tarian yang merupakan sumbangan Konsulat Jenderal Indonesia di Cape Town itu memukau ratusan undangan pada acara gala dinner di aula Royal Yacht Club.
Philip Beale, kapten kapal asal Inggris, yang malam itu mengenakan batik khas Indonesia, menyampaikan presentasi tentang ekspedisi ini. "Ini ekspedisi lanjutan dari ekspedisi kapal Borobudur enam tahun lalu," ujar Philip. Ia juga sempat menegaskan bahwa kapal Borobudur adalah kapal Indonesia, bukan kapal India seperti yang pernah dilontarkan oleh seorang profesor dari India.
Ekspedisi berskala internasional ini mengelilingi Benua Afrika, mengikuti rute yang pernah ditempuh kapal Phoenicia asli pada 600 tahun sebelum Masehi. Selama dua tahun lebih pelayaran, diawali dari Suriah, 15 Agustus 2008, kapal kayu buatan tangan Abou Hamoud dari Suriah ini telah menyinggahi pelabuhan Said (Mesir), Bur Sudan (Sudan), Aden (Yaman), Salalah (Oman), Beira (Mozambik), Pulau Mayotte, Richards Bay (Afrika Selatan), dan Cape Town.
Sebagian kru sempat berganti-ganti, kecuali Philip Beale, mantan personel replika kapal Borobudur, dan tiga orang dari Indonesia Julhan J. Nasir dan Sudirman Sahadan, dua pelaut tradisional asal Pulau Pangerung-an, Madura, Jawa Timur, serta saya, Abdul Aziz, dari Jakarta.
Dua hari setelah acara itu, Phoenicia meninggalkan kolam waterfront, Cape Town. Si-ang pukul 12,20 Maret 2010, kapal yang kini diawaki 11 kru melanjutkan kembali petualangan menuju Pulau Saint Helena di Samudra Atlantik Selatan, dan terakhir kembali ke kandang asalnya di laut Mediterania sejauh 6.000 NM (nautical mile/1 NM = 1,66 kilometer).
Suhu Cape Town waktu itu menyentuh angka 19 derajat Celsius. Ketika kapal melewati Pulau Robben, seketika itu embusan angin dari Kutub Selatan menambah kru kapal Phoenicia menggigil menahan dingin walaupun sudah terbungkus jaket kutub.
"Kenakan sarung tangan dan kaus kaki-mu, Julhan, agar mengurangi rasa dingin," kata Daniel Halstrom, kini asal Amerika.
Alam Afrika Selatan memang unik. Se-lairsuhu yang bisa jatuh ke 10 derajat Celsius, walaupun saat itu musim panas, terkadang turun hujan disertai angin yang membuat udara terasa menusuk tulang.
Tak hanya itu. Kami juga mengalami sebuah anomali magnetik atau dikenal dengan iktilaf kompas, yaitu perbedaan sudut kompas bumi dengan sudut kompas magnetik. Di Afrika Selatan perbedaannya 20-30 derajat. Kalau haluan kapal di peta seharusnya 304 derajat, di kompas kita harus menambahkan 20-30 derajat. Ini karena kandungan mineral metal di perut bumi Afrika Selatan tinggi.
Di luar kesibukan rutin sebagai kru, kami mengisi waktu dengan memancing. Pada hari pertama hingga keempat, kami selalu mendapatkan hiu.
"Kita seperti dikejar-kejar hiu," ujar Peter Hickmen, kru asal Afrika Selatan.
Nasib hiu yang terpancing ditentukan oleh tiap-tiap pemancing. Jika yang mendapatkan hiu adalah Alice Palmer atau Daniel Halstrom, nasib ikah itu berujung di panci bersama bawang bombay dan paprika. Kalau Peter atau aku yang dapat, hiu-hiu seberat 20 kilogram dan dengan panjang 1 meter itu akan kami lepas kembali.
"Wah, kalau di Indonesia, siripnya bisadiambil, harganya Rp 200 ribu,"kata Sudirman.
Hiu-hiu itu mulai tidak menampakkan siripnya ketika kami mencapai 700 NM dari Cape Town.
Angin westerlies dan arus Benguela terus mendorong kapal bertonase 50 ton ini, sehingga setiap 24 jam kami bisa menempuh 110-130 NM. Menginjak hari kedelapan, layar menggembung dengan sempurna. "Kita bisa mencapai Pulau Saint Helena dalam waktu 17 hari," kata Philip optimistis.
Kondisi angin baik. Tapi, sayang, salah satu kru.Venessa Hikcmen, sedikit murung. Ibu tiga anak dan nenek satu cucu itu mabuk laut berkepanjangan. Peter, suaminya, berusaha mengurangi penderitaan Venessa dengan menggantikan tugas memegang kemudi. Vennesa beralih tugas masak sehari penuh bersama Daniel.
Yuri Senada, pembuat film asal Brasil, menyarankan Vennesa untuk lebih banyak beraktivitas di atas dek sehingga udara segar akan memperbaiki kondisi tubuhnya. Yuri pernah hidup di kapal pesiar bersama istrinya selama 12 tahun. Kondisi Atlantik Selatan yang selalu pada skala 3-4, saat banyak pecahan ombak menggulung panjang, membuat Venessa makin menderita. Tablet antimabuk menjadi santapannya.
"Kamu saja yang berlayar hingga Suriah. Aku mungkin akan pulang sesampai di Saint Helena," kata Venessa.
"Kondisimu akan membaik setelah kita sampai di Saint Helena. Mungkin lusa kita sudah berlabuh di sana," hibur Peter saat kapal berjarak 260 NM dari pulau milik Britania Raya itu.
Dalam dua hari berikutnya, kami selalu mendapat angin dengan berkecepatan 20-25 knot sehingga laju kapal mencapai 5 knot. Pada pukul 12.30, 6 April 2010, Clement Clinton pertama kah melihat Pulau Saint Helena dari jarak 30 NM.
"Pulau itu berkabut," kata pemuda asal Kota Elizabeth, Afrika Selatan, itu. "Ini mengingatkan aku akan Inggris, yang selalu berkabut."

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Search

Memuat...

IKLAN

CLOCK

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

PLEASE TRANSLATE HERE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : AFC

VISITOR

VISITOR FLAG

free counters

Total Tayangan Laman

© 2010 AFRI COLLECTION Blog Pemancing Design by Dzignine
In Collaboration with Edde SandsPingLebanese Girls